Natal KPK 2025: Anak-anak Sebagai Pewaris Benteng Iman, Integritas, dan Antikorupsi
Di bawah sorot lampu Gedung Juang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Sabtu (10/1), kidung klasik “Go Tell It on the Mountain” bergema. Namun, kali ini cukup berbeda, sebab lagu itu datang dari suara polos anak-anak sekolah minggu insan KPK, mengiringi perayaan Natal Oikumene 2025 sekaligus menjadi simbol keberanian menanamkan nilai kejujuran dan integritas sejak dini di tengah tantangan zaman koruptif.
Pada perayaan natal tahun ini, KPK tidak ingin terjebak dalam seremoni semata. KPK sengaja memosisikan anak-anak sebagai episentrum narasi, sebab lewat mereka lembaga antirasuah ini ingin menegaskan kembali bahwa trisula pendidikan antikorupsi harus bermula dari unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga.
Ketua KPK, Setyo Budiyanto, yang hadir di tengah suasana penuh khidmat tersebut, memandang natal sebagai ruang refleksi guna memperbaharui komitmen moral dalam memberantas korupsi. Baginya, tugas pemberantasan korupsi merupakan panggilan moral yang serupa dengan pengabdian iman.
“Perayaan ini menjadi pengingat, tugas pemberantasan korupsi bukan hanya soal penegakan hukum, melainkan panggilan moral menjaga keadilan dan martabat kemanusiaan,” tutur Setyo.
Lebih lanjut, Setyo menegaskan bahwa KPK berkomitmen untuk terus menanamkan pendidikan antikorupsi yang berakar pada nilai-nilai moral dan spiritual sebagai energi etis dalam setiap pelaksanaan tugas. Upaya ini dilakukan untuk memperkuat pemberantasan korupsi agar memberi dampak nyata serta berkelanjutan.
Setyo juga mengingatkan, tantangan pemberantasan korupsi menuntut keteguhan karakter, keberanian moral, dan konsistensi menjunjung nilai kebenaran. Karenanya, ia mendorong seluruh insan KPK menguatkan nilai spiritual sebagai teladan dalam membangun budaya antikorupsi berlandaskan iman, etika, dan tanggung jawab.
Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal KPK, Cahya H. Harefa, menyoroti pentingnya penanaman nilai kejujuran sejak usia dini sebagai bagian dari pembentukan budaya antikorupsi. Menurutnya, nilai tersebut menjadi fondasi yang akan menentukan apakah semangat antikorupsi dapat benar-benar tumbuh dan mengakar di masyarakat, tidak sekadar berhenti sebagai slogan.
“Anak-anak harus dibekali keberanian berkata ‘benar’, peduli terhadap sesama, serta mampu menjadi fondasi tumbuhnya budaya antikorupsi di masyarakat. Sebagaimana nilai ajaran Nasrani seperti hidup sederhana dan menolak keserakahan adalah benteng moral yang paling alamiah bagi manusia,” tegas Cahya.
Pesan natal ini diperkuat Ps. Jose Carol dari Jakarta Praise Community Church (JPCC). Dalam pesannya, ia membawa perspektif etis yang tajam—bahwa dalam ajaran agama, sikap koruptif bukan hanya melanggar hukum negara, melainkan mengingkari panggilan manusia untuk berkarya secara jujur sebagai mitra Tuhan.
Ia menyampaikan pesan antikorupsi kepada anak-anak dengan pendekatan sederhana dan kontekstual. Nasrani mengajarkan, sikap rajin dan bertanggung jawab merupakan nilai fundamental dalam kehidupan ekonomi, sehingga praktik korupsi dipandang sebagai bentuk pengingkaran kepada bangsa dan Tuhan.
“Pendekatan ini, sejalan dengan pembentukan karakter sebagai pilar utama pencegahan korupsi. Korupsi turut mencederai nilai kasih dan keadilan sebagai inti ajaran Nasrani,” kata Ps. Jose Carol.
Di balik kemeriahan lampu dan ornamen natal, terdapat komitmen besar yang tengah KPK bangun. KPK menyadari, memutus rantai korupsi tidak dapat dilakukan hanya di ruang interogasi atau meja sidang.
Anak-anak sekolah minggu, menjadi bagian ekosistem pendidikan integritas yang perlu dipupuk di luar lingkungan kerja. Perayaan natal ini, mencerminkan komitmen KPK dalam membangun budaya organisasi yang inklusif, menjunjung nilai kebhinekaan, serta menyelaraskan nilai spiritual dengan semangat pemberantasan korupsi.
Dalam kegiatan ini turut dihadiri Dewan Pengawas KPK Benny Jozua Mamoto, eks Dewas KPK Albertina Ho, eks Pimpinan KPK Alexander Marwata, eks Deputi Pencegahan dan Monitoring KPK Pahala Nainggolan, Direktur Pendidikan dan Pelatihan Antikorupsi (ACLC) KPK Yonathan Demme Tangdilintin, serta Direktur Koordinasi dan Supervisi (Korsup) Wilayah III KPK Ely Kusumastuti.
Selain memperingati hari-hari besar keagamaan, Persekutuan Doa Oikumene KPK secara konsisten menyelenggarakan ibadah rutin setiap Jumat serta berbagai kegiatan sosial. Kegiatan tersebut dipandang sebagai upaya memperkuat nilai kebersamaan, kepedulian, dan pembinaan integritas spiritual insan KPK dalam melaksanakan tugas kelembagaan.