Ketika di bangku sekolah atupun perkuliahan sering kali kita jumpai tindakan nyeleneh yang dilakukan teman-teman kita atau bahkan diri kita sendiri, seperti tindakan mencontek yang dilakukan oleh para pelajar. Tindakan tersebut dilakukan bagi mereka yang tidak mampu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh pengajar, baik itu guru maupun dosen.

Kadang kita membutuhkan alasan yang agak murahan untuk melakukan sesuatu yang mulia. Kemuliaan itu sendiri terlalu tinggi, kita tak sanggup junjung, maka kita perlu alasan yang agak dangkal…

Ya, hanya dari generasi mudalah dapat timbul perbaikan fundamental. Tapi, apakah generasi muda kita yang sudah terlanjur manja, hedonis, konsumeristik, hanya cari karier serta sudah diindoktrinasi selama puluhan tahun – agar takut berpikir sendiri, agar apolitis, mampu untuk membuat perubahan mendasar? Jawabannya tak diragukan. Bisa dan mampu!” (Y.B. Mangunwijaya).

Mahasiswa dalam kapasitasnya sebagai ‘agent of change’ dikatakan sebagai peserta didik yang kritis terhadap apa yang tejadi di sekitarnya. Namun, bukankah yang terjadi di lapangan justru sebaliknya. Mahasiswa sekarang memang kritis, tetapi hanya sedikit dari orang-orang kritis tersebut yang melakukan tindakan, lainnya hanya omong kosong belaka.

Demokrasi mensyaratkan adanya keterlibatan rakyat dalam pengambilan keputusan, persamaan hak diantara warga negara, kebebasan dan kemerdekaan yang diberikan pada warga negara, sistem perwakilan yang efektif, dan adanya pemilihan yang dihormati dalam prinsip ketentuan mayoritas. Dengan lahirnya UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang menjadi landasan

Halaman 2 dari 3
Top