Komisi Pemberantasan Korupsi

Mahasiswa: Sikap Kritis yang Terkikis

Ya, hanya dari generasi mudalah dapat timbul perbaikan fundamental. Tapi, apakah generasi muda kita yang sudah terlanjur manja, hedonis, konsumeristik, hanya cari karier serta sudah diindoktrinasi selama puluhan tahun – agar takut berpikir sendiri, agar apolitis, mampu untuk membuat perubahan mendasar? Jawabannya tak diragukan. Bisa dan mampu!” (Y.B. Mangunwijaya).

Pandangan Romo Mangun yang tertera dalam buku Kata-kata Terakhir Romo Mangun, menunjukkan betapa kuat keyakinannya terhadap kaum muda (mahasiswa) negeri ini. Romo Mangun memandang generasi muda, sebagai generasi yang dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh golongan tua.

Namun dalam optimismenya terhadap generasi muda, terselip beberapa pertanyaan yang sangat fundamen. Beliau mempertanyakan loyalitas generasi muda untuk berani berpikir dan berkata secara kritis, atas segala kebijakan yang merugikan masyarakat.

Dalam pemaparan selanjutnya, saya akan mengganti diksi pemuda menjadi mahasiswa. Alasannya sederhana, semua pemuda belum tentu mahasiswa, dan semua mahasiswa belum tentu pemuda. Penggunaan diksi ini juga dimaksudkan, agar tidak muncul multitafsir tentang pemuda.

Saya akan mencoba untuk mengajak para pembaca melihat fungsi-fungsi yang harus dilakukan oleh seorang mahasiswa. Jas Merah, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah,” begitu kata Bung Karno. Dalam melihat pergerakan mahasiswa di Indonesia, saya akan membaginya menjadi empat periodik. Pertama, mahasiswa pada era pergerakan nasional merupakan para pemuda yang memiliki semangat yang berapi-api dalam menentang dan menyuarakan kemerdekaan Indonesia.

Kedua, mahasiswa pada masa orde lama. Secara perlahan, timbul masalah-masalah yang merugikan masyarakat kecil dan menguntungkan yang berkuasa. Para mahasiswa
melihat Soekarno sebagai sosok yang tidak lagi demokratis. Demokrasi terpimpin yang diterapkan oleh Soekarno, bukanlah sebuah demokrasi, demikian yang di katakan Soe Hok Gie.

Ketiga, mahasiswa pada pemerintahan Orde Baru. Peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari) yang terjadi pada tahun 1974, menggambarkan sikap mahasiswa yang menolak
masuknya investor asal Jepang. Mahasiswa kembali turun ke jalan dan melakukan berbagai aksi untuk menolak kebijakan pemerintah.

Peristiwa 1998 merupakan akumulasi kekecewaan dan penderitaan yang telah dirasakan oleh masyarakat Indonesia selama kurang lebih 32 tahun. Mahasiswa memiliki
peran besar dalam menggulingkan pemerintahan tirani. Mahasiswa pada ketiga periode tersebut, merupakan para mahasiswa yang tidak hanya berkuliah dan menjadikan IPK sebagai “Tuhannya”. Mahasiswa pada masa tersebut, memiliki sebuah kepercayaan bahwa, mereka adalah rakyat. Jadi sudah seharusnya mereka berdiri dan bersuara untuk segala kebijakan yang merugikan rakyat.

“Apakah generasi muda kita yang sudah terlanjur manja, hedonis, konsumeristik, hanya cari karier serta sudah diindoktrinasi selama puluhan tahun agar takut berpikir sendiri, agar apolitis, mampu untuk membuat perubahan mendasar?” Demikian kata Romo Mangun. Pertanyaan Romo Mangun, telah terjawab lewat sikap sebagian besar mahasiswa
negeri ini. Mahasiswa era sekarang tak ubahnya seperti rombongan bebek yang patut dan tidak berani melawan terhadap tuannya. Kenapa mereka tak berani melawan? Jawabannya yaitu IPK.

IPK bagi mahasiswa dewasa ini, adalah “Tuhannya” dalam bidang akademik. Sikap anti terhadap literasi, membuat mahasiswa sekarang menjadi sosok yang “pendiam”. Diam merupakan wujud lain dari kematian itu sendiri, demikian kata Pram. Mungkin mereka (mahasiswa) telah lupa, bahwa eksistensi mereka sebagai seorang mahasiswa, ada

berkat masyarakat.

Saya juga menyadari, belajar merupakan sesuatu hal yang sangat penting. Namun, menjadi cukup naif jika mahasiswa hanya belajar dan melupakan tugasnya sebagai kaum
yang katanya memiliki intelektual dan sikap kritis.

Perlu diingat, ilmu pengetahuan bukan hanya diperoleh dalam bangku akademik, melainkan di lingkungan masyarakat di sekitarnya, juga tersimpan ilmu pengetahuan
yang mungkin tidak diajarkan, dalam dinamika ruang kelas. Pernyataan tersebut akan dikatakan objektif, jika para mahasiswa memandang sebuah dinamika pencarian ilmu, sebagai upaya untuk memperbaiki manusia Indonesia. Namun akan menjadi sebuah subjektivitas, ketika mahasiswa melihat ilmu pengetahuan sebagai upaya untuk memperoleh nilai-nilai kebohongan dalam secarik kertas yang penuh kebusukan.

‘MAHA-siswa’ pada era sekarang, patutnya berefleksi diri. Apakah mereka pantas disebut sebagai mahasiswa? Apakah mereka pantas disebut sebagai pemuda yang kritis?
Mahasiswa yang hanya akan belajar ketika mahasiswa yang munafik. Dia adalah individu yang “me-lajur-kan” diksi mahasiswa. Mahasiswa yang hanya sibuk dengan dunianya dan menutup mata atas segala persoalan disekitarnya, merupakan mahasiswa yang keblinger.

Mahasiswa yang hanya kuliah pulang-kuliah pulang, tidak ada bedanya dengan babi di hutan (maaf). Musababnya, dia tidak menggunakan ilmu pengetahuan yang dia peroleh
untuk melihat sebuah permasalahan. Dia cenderung apatis dan menganggap negara ini aman-aman saja. Dan hal tersebut tidak ada bedanya dengan babi hutan yang hanya mencari makan, tanpa melihat situasi disekitarnya. Yang dia tahu, hanyalah dia harus kenyang.

Soesilo Toer berkata, bukan di mana Anda berkuliah, tapi bagaimana anda belajar. Kakaknya pun berkata, keberanian merupakan sesuatu hal yang kita punya, jika tak punya
itu, apa arti hidup ini. Mahasiswa yang telah belajar dan memiliki pengetahuan sebagai seorang mahasiswa, sudah selayaknya menempatkan dirinya sebagai mahasiswa. Mahasiswa yang selalu resah melihat sesuatu yang salah, dan bertindak untuk mengatasi kesalahan tersebut. Ingatlah, kalian mahasiswa bukan siswa.

Sumpah Mahasiswa Indonesia
Kami mahasiswa Indonesia bersumpah
Bertanah air satu, tanah air tanpa penjahat
Kami mahasiswa Indonesia bersumpah
Berbangsa satu, bangsa yang takhluk akan
keadilan
Kami mahasiswa Indonesia bersumpah
Berbahasa satu, bahasa tanpa kebohogan
Hidup Mahasiswa !!! Hidup Mahasiswa !!!
(Sumpah mahasiswa- karya Afnan Malay)




Oleh: Benediktus Fatubun
Pemimpin Umum Lembaga Pers Mahasiswa Natas
Universitas Sanata Dharma

 

Tulisan yang dimuat dalam Publik Bicara adalah opini dan analisis pribadi dari para penulis, dan tidak mewakili pandangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Info Kontak

Gedung KPK

Jln. Kuningan Persada Kav. 4
Jakarta Selatan 12950
Telp: (021) 2557 8300
Faks: (021) 5289 2456
Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.