Komisi Pemberantasan Korupsi

Halaman Utama / Berita

Agar Anak Berdaya Melawan Rasuah

Maraknya pembicaraan mengenai korupsi, membuat banyak orangtua tentu khawatir. Apalagi, tren pelaku korupsi kini juga dilakukan mereka yang berusia muda. Menjadi pertanyaan besar bagi para orangtua, “Bagaimana mengasuh anak agar bermental antikorupsi di masa mendatang?”

“Zaman saat ini, korupsi merajalela. Banyak ditemukan praktik korupsi di sekitar kita. Orangtua ingin anaknya berdaya dalam menghadapi tantangan di zamannya,” ujar penulis buku Parents Story, Adhitya Mulya dalam acara Bedah Buku yang digelar Perpustakaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Jumat (22/4).

Menurutnya, ada tiga hal yang harus dipersiapkan dalam membentuk karakter seorang anak yang tangguh dan siap menghadapi tantangan di masa depan. Tiga hal itu yakni nilai diri, harga diri dan proses. “Karena memang tiga hal itulah yang membentuk karakter seorang anak, dalam proses mereka untuk menjadi seorang dewasa yang berdaya. Minimal anak kita berdaya untuk dirinya sendiri,” ujarnya.

Seni Mempermalukan Koruptor

Segala cara sepertinya sudah dilakukan, tidak hanya untuk mencegah dan memberantas korupsi, tetapi juga untuk mempermalukan si koruptor itu sendiri. Ironinya, setiap tersangka kasus korupsi yang keluar dari Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan rompi oranye, seolah tak punya malu. Sambal tersenyum dan melambaikan tangan kepada para awak media, lalu masuk ke mobil tahanan.

Begitulah ungkapan kegeraman Gerakan Antikorupsi (GAK) yang lantas menggandeng sejumlah kelompok seniman untuk mempermalukan koruptor melalui seni lukis. Ada Sanggar Lukis Gelanggang Remaja Jakarta Selatan (Garajas), Kelompok Dapur Sastra Cisauk, Kelompok Karikatur dan Kartunis, kelompok mural dan grafiti Indonesian Street Art Database (ISAD), dan kelompok fotografer dari Asosiasi Fotografer Indonesia (AFI). Turut hadir, seniman mural asal Amerikat Sonic Bad. Mereka membuat kartun bersama di kain putih sepanjang 15 meter yang menyindir, mengkritik dan menghinakan koruptor.

“Melalui aksi ini kami melecehkan, bahkan menghina para koruptor di negeri ini,” kata Ketua Gerakan Antikorupsi (GAK) Ruddy Johanes, di sela-sela kegiatan pada Jumat (22/4) lalu.

Kartini dan Gerakan Inspiratif Perempuan

Muhammad Fairus (5), bangun lebih pagi dari hari biasanya. Sejak kemarin, hari yang dinanti-nantikannya telah tiba. Pada perayaan Hari Kartini, Kamis (21/4), Fairus akan ‘menjadi’ polisi, bersama teman-teman lainnya dengan ragam profesi lainnya.

“Polisi itu gagah dan kuat,” ujarnya ketika ditanya alasan mengapa dirinya ingin mengenakan kostum polisi. Ibunya, Sofi (27), menuturkan, anaknya sangat suka dengan profesi polisi. Kalau ditanya, ingin menjadi apa kelak dewasa, Fairus selalu menjawab ingin menjadi polisi.

“Anak saya suka dengan sosok polisi,” ujar Sofi.

Tentu saja, apapun profesi pilihan anaknya kelak, Sofi akan terus mendukung. Karena baginya, menjadi profesi apapun, haruslah memiliki integritas yang baik. Karena itu, ia selalu berupaya menanamkan nilai-nilai luhur kepada Fairus sejak belia, menyesuaikan tingkat pemahamannya.

“Misalnya kejujuran, jangan suka bohong, kalau bukan miliknya jangan diambil. Ya, hal-hal sederhana seperti itu,” ungkap Sofi yang nilai itu akan tertanam dalam diri Fairus dan menjadi pedoman hidupnya kelak.

‘Menyuntikkan’ Kejujuran pada Anak Toraja

Puluhan murid SD Katolik Renya Rosari Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, tampak riang saat menonton film animasi “Sahabat Pemberani” yang diproduksi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Selama beberapa jam, mereka belajar nilai antikorupsi melalui film dan diskusi yang dilakukan Komunitas Pemuda Toraja Anti Korupsi (PETAK) pada Jumat (15/4) lalu.

Komunitas PETAK baru sebulan berdiri, namun telah aktif melakukan sosialisasi antikorupsi ke berbagai lapisan masyarakat, salah satunya sekolah. Dan film animasi ini, menjadi salah satu medium sosialisasi efektif bagi pelajar yang biasa digunakan komunitas ini.

“Kegiatan ini akan membantu para murid untuk memiliki karakter berani dan bersikap jujur, karena potensi korupsi dimulai ketika sikap tersebut tidak tumbuh sejak dini,” ujar Koordinator PETAK Barliani Mariska, yang juga membagikan buku dan stiker antikorupsi.

Mendampingi Provinsi Agar Terhindar dari Korupsi

Terjadinya tindak pidana korupsi yang berulang di suatu provinsi, mendorong Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengambil langkah ekstra. Selain itu, para pelaku korupsi juga tak hanya melibatkan eksekutif dan legislatif, melainkan juga sektor swasta.

Untuk itu, KPK melakukan pendampingan terhadap provinsi yang rawan tersebut, yakni Riau, Sumatera Utara, Banten, Nangroe Aceh Darussalam, Papua dan Papua Barat. Dengan menggelar rapat koordinasi, KPK bersinergi dengan para pemangku kepentingan, untuk meningkatkan kapasitas dan komitmen antikorupsi di wilayah tersebut.

“KPK tidak hanya beraksi dengan penindakan, namun yang juga sangat penting adalah pencegahan melalui perbaikan sistem,” kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata di Aula Martabe Kantor Gubernur Sumatera Utara, Jalan Diponegoro, Medan pada Kamis (14/4).

Info Kontak

Gedung KPK

Jln. HR Rasuna Said Kav. C1 Kuningan
Jakarta Selatan 12920
Telp: (021) 2557 8300
Faks: (021) 5289 2456
Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.